Skip to main content

Parvovirus



Hi! I’m Gumiho, but you can call me Miho.
And i’m a Parvo Survivor !

Kira-kira begitu kalau Miho, anjing saya bisa ngomong.
Belum tau apa itu parvo? Silahkan cek di google masing-masing, dan siapkan hati karena kalian akan ngeri sendiri ketika membaca, apalagi mengalami.

Ceritanya berawal dari hari Rabu kemarin di usia Miho yang kurang lebih 4 bulan, saya ajak dia untuk vaksin rabies di salah satu klinik hewan di kota saya. Disitu saya diberi pilihan oleh dokter untuk hanya vaksin rabies atau vaksin lengkap. Tanpa banyak pertimbangan saya memilih untuk vaksin lengkap biar sekalian. Dokter mengingatkan bahwa setelah vaksin, anjing tidak boleh dimandikan atau kena hujan selama dua minggu. Tidak boleh makan coklat, keju, dan susu karena sistem pencernaan anjing tidak bisa memproses ketiga makanan itu. Selain itu, masa menegangkan akan terjadi selama satu minggu sejak vaksin, karena Miho terlambat vaksin, bisa jadi virus sudah masuk ke tubuhnya dan tinggal menunggu waktu untuk menyerang, seperti bom waktu.
Sepulangnya kami dari klinik hewan, Miho ceria seperti biasa. Kalau bisa saya deskripsikan, Miho adalah anjing yang sangat ramah. Hampir nggak pernah dia gonggong orang asing sekalipun, ekornya selalu goyang heboh setiap ketemu orang lain.

Sampai keesokan harinya setelah vaksin, Miho mulai mogok makan, dan agak lemas. Saya pikir itu adalah hal normal setelah vaksin, saya juga konsultasi via WA sama dokter yang bilang bahwa umumnya memang setelah vaksin, anjing akan menjadi demam, lemas, tidak nafsu makan dan murung maksimal dua hari.  Malam hari saya coba kasih makan, Miho akhirnya mau makan dan saya lega luar biasa dan berpikir bahwa mungkin besok Miho sudah sehat seperti biasa.
Esok hari, Jumat pagi Miho masih lemas, mau makan dada ayam goreng meskipun sedikit dan dengan banyak trik supaya dia mau makan, tapi dia mulai muntah satu kali, saya konsultasi lagi dan dokter bilang itu masih normal. Tapi saya mulai was-was.

Hari sabtu subuh saya bangun untuk cek Miho, dan apa yang saya lihat adalah mimpi buruk. Miho betul-betul tidak mau makan, muntah kuning, dia hanya baring, ekornya lemas, telinganya turun dan mulai tidak merespon jika dipanggil. Satu hal yang saya syukuri adalah dia mau minum, dan minumnya banyak, itu sangat membantu untuk menghidrasi tubuhnya yang selalu muntah.
Jam 8 pagi masih di hari sabtu, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Miho poop darah. Saya panik seketika. Belum lagi Miho muntah-muntah berbusa dan berlendir, udah nggak terhitung jumlahnya. Saya sudah lemas dan berpikir bahwa bisa jadi saya kehilangan Miho. Saya tidak akan pernah lupa tatapan nanar Miho yang sudah sangat lemah tapi tubuhnya terus memuntahkan isi perut yang sebenarnya sudah kosong.
Pagi itu juga saya akhirnya menelepon dokter untuk buat janji temu sesegera mungkin, dan disepakati jam setengah 10. Sampai di klinik hewan, Miho yang ketika vaksin sangat ceria dan aktif, menjadi lemas meskipun ketika melihat dokter dia tetap menggoyang ekornya dengan heboh. Dokter memeriksa dan menyimpulkan Miho kena virus Parvo. Saya seperti disambar geledek rasanya.

Dokter bilang bahwa keputusan saya untuk vaksin lengkap pada hari rabu adalah keputusan yang luar biasa, meskipun hampir terlambat karena kalau saya tidak vaksin lengkap di hari rabu, bisa jadi Miho tidak akan sanggup bertahan karena tidak memiliki antibodi yang kuat untuk melawan virus. Dokter bertanya apakah Miho mau diinfus dirumah karena klinik rawat inap lagi penuh. Saya berpikir kalau diinfus, Miho pasti akan memberontak dan Miho bukan tipe anjing yang bisa diam meskipun dalam keadaan sakit. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak diinfus dengan konsekuensi saya harus memberikan Miho minum minimal 5cc per 3 jam ditambah dengan telor ayam mentah (saya pilih telor ayam kampung) dicampur dengan madu (kurang lebih 7-8 tetes madu) dengan takaran 5cc per 6 jam. Pemberian air dan telor madu dianjurkan menggunakan spuit (jarum suntik yang dilepas jarumnya) dan diberikan lewat samping mulut anjing, jangan dari depan menghindari tersedak.

Miho disuntik 7 kali, saya udah nggak tau itu obat apa aja yang jelas saya berdoa supaya Miho kuat dan cepat sembuh. Sepulangnya dari klinik, Miho masih muntah-muntah, nggak mau makan, tapi tetap mau minum banyak dan saya bangun setiap 3 jam untuk ngecek Miho. Jangan tanya gimana kacaunya saya yang kurang tidur, stress dan gugup melihat kondisi Miho. Malam harinya saya cek, poop Miho sudah tidak secair sebelumnya, sudah mulai berbentuk meskipun masih lembek. Muntahnya juga berkurang, tapi Miho masih lemas.

Minggu pagi masih sama, Miho belum mau makan. Dia cuman tidur dan kalaupun bangun biasanya untuk muntah. Saya sudah sangat putus asa dan kepikiran sepanjang waktu. Saya tetap telaten untuk kasih air minum yang saya campur gula untuk energinya dan juga telor madu. Sore harinya, saya sudah putus asa akhirnya membawa Miho check up ke klinik lagi.

Dokter memberikan kabar baik, yang bilang bahwa vaksin miho sudah mulai bekerja untuk melawan virusnya. Miho nggak perlu infus karena nggak dehidrasi, tapi tetap disuntik sebanyak 6 kali. Sepulangnya dari klinik, Miho terlihat tidur lumayan nyenyak, sepertinya mulai enakan. Saya terus berikan air dan juga telor madu sebanyak 5cc setiap 6 jam.

Senin pagi, sama seperti hari Minggu. Tapi, saya mulai sadar bahwa Miho nggak ada muntah atau poop. Saya pikir itu adalah perkembangan yang positif. Selain itu, saya beli hati ayam, saya rebus kemudian hancurkan dan saya campur dengan air supaya bisa saya spuit ke mulutnya Miho.

Senin siang, Miho mulai kelihatan lumayan oke, dan tiba-tiba dia makan ikan sarden yang memang ditaroh di piringnya. Disitu saya langsung teriak bahagia dan saya buru-buru ambil lagi ikan sarden tapi Miho nggak mau makan lagi. Saya tetap semangat karena saya tau itu adalah pertanda bagus. Selang dua jam kemudian, saya berikan lagi sarden tanpa nasi dia mau makan, saya berikan hati ayam goreng, dia makan. Total yang dia makan hari itu adalah 3 ikan sarden, dan 3 hati ayam goreng meskipun tanpa nasi, karena Miho masih nggak mau makan nasi. Intinya, saya tetap bahagia.

Hari selasa, saya berikan dada ayam rebus, Miho nggak mau, kemudian saya goreng eh dia makan. Saya kasih ikan goreng, dia juga makan. Mulai saya campur ikan dan ayam goreng pakai nasi dan dia mau makan meskipun sedikit-sedikit. Meskipun belum ceria seperti biasa, tapi Miho mulai bereaksi ketika dipanggil, ekornya mulai bergoyang. Saya tau Miho akan sembuh dan saya sangaaaat bahagia.

Tips dan info dari saya untuk kasus parvo ini, adalah:
  1. Jangan terlambat memberikan vaksin untuk anjing atau peliharaan kalian.
  2. Kalau kalian menemukan kasus yang sama, segera ke dokter hewan untuk mendapatkan pertolongan, jangan memberikan obat sembarangan yang bisa jadi memperparah penyakitnya.
  3. Jangan beri air keran atau air mentah karena bisa jadi bakteri yang ada di dalam air justru memperparah kondisinya. Jika perlu, berikan air yang diaduk dengan gula, kira-kira air 200ml dicampur dengan 1 sendok makan gula. Berikan juga oralit dan jangan lupa telor madu.
  4. Harus sabar dan telaten. Berikan anjing minum sesering mungkin, ajak dia berbicara, dan berikan dukungan agar dia semangat dan bisa segera bermain bersama lagi, terdengar aneh memang. Tapi saya percaya, anjing atau peliharaan kita memiliki ikatan emosional dengan kita. Kalau kita tidak peduli dengan kondisinya, dia pasti merasa kita membuangnya dan semakin tidak bersemangat untuk melawan sakitnya.
  5. Secara teori, masa kritis untuk parvo adalah 3 hari sejak poop darah. 24 jam pertama adalah masa kritis dimulai, pada banyak kasus anjing tidak dapat melewati fase ini khususnya pada detik detik menuju 24 jam, namun jika bisa melewati fase 24 jam, ada harapan untuk bertahan. Kemudian fase 24-48 jam, bisa dibilang sebagai fase anti-klimaks dimana tubuh mulai menyesuaikan dan menyusun antibodi. Lalu fase 48-72 jam tubuh mulai memproduksi antibodi terhadap virus, meskipun belum bisa dipastikan karena bisa saja tubuh tidak mampu beradaptasi yang mengakibatkan kematian. Melewati fase 72 jam setelah poop berdarah pertama, akan mulai kelihatan perkembangan yang positif.
Jadi, begitulah pengalaman saya mengatasi Parvovirus. Bagi yang saat ini telah berjuang melawan virus Parvo, semangat! Badai pasti berlalu. Satu-satunya cara mencegah virus ini masuk ke tubuh hewan perliharaan kita adalah dengan cara vaksin, silahkan cek usia vaksin hewan peliharaan kamu, jangan terlambat vaksin, ya. Semoga membantu šŸ˜„

Comments

Popular posts from this blog

Cetak Biru (1998)

Sewujud bangunan hadir di setiap kepala, tujuan yang mendenyutkan nyawa ke dalam cetak biru. Satu demi satu batu mimpi tersusun rapi, berlandaskan fondasi mantap, terekatkan semen yang kuat, Lalu, bangunan itu dilengkapi dan digenapi, sampai lahirlah utuh ke dunia materi. Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam, pilihlah bahan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan gubuk sederhananya, ada yang baru terpuaskan dengan julangan menara. Dalam jutaan bangunan yang ada, pastikan milikmu ada di sana. Sekalipun bukan yang terkemuka, tapi senyata bulan di pembuka candra. Karena banyak batu terbengkalai di sekitar bangunan tak selesai, karena banyak penumpang di teras rumah orang, dan tak ada bangunan yang nyata hanya oleh ancang-ancang, Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan, Ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, batu-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. Mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lag...

I did It

Finally, after 1000 cups of coffee, The nights i spent with my hands on the keyboard, Oke. Lebay 😜 Intinya, I did it. Meskipun revisi tetap setia menanti, tapi hari ini saya sudah melewati tahap terakhir ujian tesis saya! Yay! Jadi, setelah semua jerih payah dan serangkaian proses yang melelahkan itu berada di belakang saya, rasanya lega banget. Tapi, jangan senang-senang dulu. Justru ini adalah pertanda masa kejayaan saya berakhir karena kehidupan yang sesungguhnya akan segera datang.  Bayangin deh jadi anak kuliahan, kerjanya belajar, maen, belajar, maen, gituuu aja. Enak, kan? Masa itu akan segera berakhir, karena tanggungjawab yang lebih besar setelah lulus menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Kita harus bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, mengelolanya, hidup mandiri dan bertanggungjawab sepenuhnya.  Jadi, semoga ilmu yang kita dapatkan selama sekolah atau kuliah bisa menjadi bekal kita di masa depan, ya. Amin. Love, M

Naughty Nuri's Warung

Hi! Saya main ke Bali beberapa waktu yang lalu, dan nyobain pork ribs di Naughty Nuri's Warung sudah masuk ke dalam list saya sama teman saya. Jadi, lokasi Naughty Nuri's Warung ini terdapat di dua lokasi, yang pertama di  Jl. Raya Sanggingan No.88X, Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 dan yang kedua ada di Jl.  Mertanadi No. 62, Kerobokan, Seminyak, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361.  Berhubung hotel kita di daerah Kuta, jadi lebih efektif dan efisien untuk nyobain yang di daerah Seminyak dibandingkan di Ubud. Padahal, waktu di Ubud kebetulan kita ada janjian ketemuan sama temen-temen, berhenti dipinggir jalan yang kebetulan berseberangan dengan Naughty Nuri's Warung Ubud, tapi kita skip dulu untuk besoknya dan memutuskan untuk makan yang di Seminyak aja. Kalau di Ubud, tempat makannya konsepnya lebih tradisional, yang saya rasa justru mungkin lebih seru dan berasa homey aja. Nah, kalau di Seminyak, konsepnya sudah modern, da...