Bukan.
Saya tidak sedang patah hati. Dan, selamat membaca
postingan pertama saya di tahun 2019! Hahaha parah nih, sangat tidak produktif
untuk menulis disini karena sesuatu dan lain hal, yang akan saya kasih tau
suatu hari nanti 😋
Okay. Topiknya broken heart=patah hati. Dalam artian yang
luas, kita bisa saja patah hati karena banyak hal, dalam segala kategori dan
kondisi. Patah hati ‘minimalis’ karena artis idola jadian, stok kopi di dapur
habis, ending drama korea bikin kesel, burger langganan tutup, item incaran di
Shopee out of stock, dan patah hati ‘minimalis’ lainnya yang tidak meninggalkan
luka yang mendalam.
Bagaimana dengan patah hati level ‘darurat’? Sudah pernah
merasakan? Saya pernah. Sering. Dalam beberapa kategori pernah saya alami.
Tapi, yang saat ini akan saya bicarakan adalah patah hati yang paling umum
terjadi di muka bumi ini: patah hati karena cinta. Duh.
Teman-teman terdekat saya sepanjang sekolah SMP-SMA pasti
masih mengingat jelas ‘kisah cinta’ saya pada saat masih berlabel remaja itu 😅😅😅 Intinya adalah, saya seringkali menangis, dikecewakan, dikhianati,
ditinggalkan, dibohongi, disakiti, apalah lagi you name it lah drama percintaan
anak sekolah yang sebetulnya remeh-remeh.
Betul, saya masih remaja pada saat itu. Saya masih naif,
saya masih lugu dan well, bodoh dalam urusan cinta. Ketika saya harus
menghadapi masa-masa kelabu dalam drama percintaan saya, saya pikir saya adalah
orang yang paling menyedihkan sedunia. Terlewati satu patah hati, datang lagi
patah hati lainnya. Begitu seterusnya
sampai saya kuliah, saya vakum pacaran untuk beberapa waktu.
Bukan, bukan karena trauma, tapi nggak ada yang naksir saya 😂✌
Sampai pada suatu hari, saya mencerna kisah cinta saya. Nggak
banget, bikin malu, penuh drama, dan serasa pengen hapus memori soal kisah
cinta semasa saya sekolah. Tapi, tunggu dulu. Pelan-pelan saya ingat lagi
semuanya. Yes, semuanya. Sakit hati, kekecewaan, kebodohan, dan semua hal yang
bisa saya ingat. Yang pada akhirnya mengantarkan saya untuk setuju bahwa waktu,
akan menyembuhkan luka. Pelan-pelan, berproses, dan butuh kesabaran.
Saya terkejut ketika menyadari bahwa saya cukup terlatih
untuk patah hati berkat kisah cinta saya yang sangat tidak elegan hahahahaha. Saya
terlatih untuk menghadapi cowok brengsek, berargumen dengan cowok keras kepala,
dan sedikit banyak memahami cara berpikir laki-laki, dan juga sifat brengsek
mereka. Intinya, saya sedikit lebih pintar dalam urusan cinta 😹
Proses saya tidak mudah. Teman-teman saya saksinya. Tapi,
seiring berjalannya waktu, semua hati yang patah itu ternyata bisa utuh
kembali. Ketika saya harus melalui semua proses tidak elegan itu, saya kemudian
menyadari bahwa hal tersebut adalah pelajaran berharga untuk saya. Ketika dalam
fase patah hati, saya ingin lupa semua hal tentang dia which is mustahil
kecuali saya hilang ingatan. Karena kita tidak tahu seberapa kuat kita sampai
kita tidak punya pilihan selain menjadi kuat, maka saya memberanikan diri
menghadapi patah hati saya, saya melaluinya, dan saya bertahan. Saya memilih
untuk merelakan. Merelakan hati saya yang sudah patah, untuk kemudian saya
sadari dan syukuri, bahwa saya tidak bertahan dengan hubungan dan cinta yang
salah.
Tapi…. tunggu dulu, apakah itu betul cinta?
Nahloh.
Satu lagi kenyataan yang mengejutkan saya. Setelah di telaah
baik-baik, saya yakin bahwa ‘kisah cinta’ saya semasa sekolah itu bukanlah
cinta yang sesungguhnya. Cinta monyet! 🙈🙉🙊
Meskipun ada beberapa orang yang secara menakjubkan pacaran
sejak sekolah, dan beberapa membuktikan bahwa mereka bersama-sama berhasil
membangun cinta yang sesungguhnya. Sementara bagian yang harus saya hadapi
adalah cinta monyet ini. Cinta karena dia keren, karena dia kebetulan deketin,
dan alasan-alasan receh lainnya. Ironis sekali 😪
Kemudian, saya hubungkan. Pantas saya patah hati. Karena cinta
saya pun tidak se-serius itu 😳 saya hanya ingin pacaran, ngambek kemudian
minta putus, telat balas sms (yoi, jaman saya masih sms) ngambek, apa-apa
ngambek. Childish, karena cara saya memandang cinta pun childish! Saya harus
patah hati dulu untuk bisa belajar cinta.
Saya, yang saat ini sudah bukan remaja lagi, menyadari bahwa
cinta tidak selalu soal kebahagiaan. Ada bagian pahit yang harus kita rasakan
bersama. Ada pengorbanan, ada tantangan, ujian dan kepercayaan bahwa kita harus
konsisten yang pada gilirannya akan menjadi bukti bahwa kita serius. Ketika kita
serius, sabar melalui setiap prosesnya, kita tidak akan menggampang sesuatu, yang dalam
hal ini adalah cinta. Kita nggak akan minta putus kalau telat dikabarin, atau
jealous nggak jelas, atau hanya karena dia komunikasi sama orang lain, atau
apapun alasan sepele lainnya. Kita belajar untuk setia, menghargai, memaafkan,
menerima, memperlakukan dengan kasih, dan dengan cara yang dewasa. Singkat
kata, cinta itu butuh banyak sekali belajar, bersama-sama 💗
Jika ditengah jalan dalam proses belajar itu kita menemukan
kenyataan pahit dan patah hati, percayalah, kamu bisa lalui itu semua. Entah di
akhir pelajaran kamu akan menemukan cinta, atau justru menemukan diri kamu yang
sesungguhnya.
Saya tidak pernah menyesali masa sekolah saya yang penuh ‘drama
cinta’, justru saya bersyukur sudah melalui patah hati itu dan menemukan diri
saya. Untuk barisan para mantan cinta monyet saya, dimanapun kalian
berada: Thankyou, Next.
Love,
M
Comments
Post a Comment