Being single is not easy, dan
kalau boleh saya tambahkan.... at all.
Being single in the 20-something ibarat nonton film horror sendirian di bioskop. Serem dan mati gaya!
Disaat teman-teman saya (plus
handphonenya) dihiasi dengan cinta dan semua emoticon yang jelas-jelas jarang
saya gunakan: emoticon peluk, kiss, heart, dan sekutunya, atau sedang dalam
hubungan yang sehat, serius dan planning their lives together, sedangkan saya
masih duduk-duduk melamun sambil sesekali baca sms spam dari operator, atau
lebih parah lagi tenggelam dalam lautan tugas-tugas kampus.
Bayangkan saya sebagai seorang
yang suka novel/film/drama romantis plus happy ending, yang nggak begitu aktif di
medsos manapun, nggak punya pacar, diperparah dengan kekolotan mamah saya yang
ketar ketir karena saya malam minggunya pake piama, minum kopi dan mesra
sendiri sama laptop. Come on! Saya tinggal di gua mana selama ini ? Lihat noh, Frakenstein
aja bisa menemukan cinta sejati!
Pertanyaan semacam is there
something wrong with me? menghiasi hampir setiap hari di kehidupan jomblo saya.
Siklus harapan dan percaya diri saya juga nggak stabil. Hari ini saya lupa saya
‘masih’ jomblo, dan merasa baik-baik saja. Besok saya lihat rumit dan galaunya
pacaran atau bahkan rumah tangga, saya bersyukur jomblo. Lusanya, saya hampir
menangis tersedu-sedu karena pengen punya pacar setelah nonton drama korea,
atau yang lebih lucu lagi saya pernah hampir nangis karena jatuh cinta sama
lagu romatis yang dicover oleh Boyce Avenue – Faithfully dan sadar akan
jomplangnya fakta kehidupan saya dengan lagunya. See? Yes, i was that desperate.
Gimana saya bisa berbuat sesuatu
coba, atau minimal berusaha mendapatkan apa yang saya mau sementara saya
sendiri nggak tau mau apa dan gimana?
Kedengarannya memang tragis. Hei,
bukan jomblonya yang tragis, TAPI mental dan cara berpikir saya. Saya lupa
bahwa setiap manusia punya ‘waktu’ masing-masing and it’s not fair to compare
their time with yours. Perumpamaannya, kita ini adalah penumpang pesawat. Kita punya jadwal penerbangan masing-masing, dan untuk sampai ke tujuan kita harus antri sesuai jadwal, pesawat nggak mungkin terbang semua secara bersamaan. Bisa kacau. Oleh karena itu, ada penumpang yang 'duluan sampai', ada yang 'belakangan sampai'. Prinsip keseimbangan sedang bekerja. You get my point ?
Dan saya yang saat ini sambil nunggu jadwal 'penerbangan' saya, mungkin it’s time to learning and growth, learning
and growing into a better version of my self. Belajar dari yang sudah punya
pacar atau bahkan suami/istri, belajar tentang who truly i am.
Meskipun menjadi jomblo berarti
siap di bully seolah itulah ‘status’ yang paling hina dan nggak jauh dari
kesengsaraan. Well, nggak sepenuhnya gitu juga kok sebenarnya kalau saya
pikir-pikir lagi. Saya sudah melalui fase labil seperti yang saya bilang tadi,
dan saya nggak munafik kok, sekarang gini... don't get me wrong, i want to meet my future husband
too, dan kalau perlu saya bakal jewer telinganya dan teriak keras-keras WHAT
TAKES YOU TOO LONG!? When i meet him. Katakanlah saya sok bijak, atau sok tegar,
atau sinis dengan suatu hubungan but here’s my two cents....
Punya pacar atau punya suami
bukan lantas menjadi satu-satunya tujuan hidup saya, kan ? i mean, saya punya
banyak hal yang harus saya ‘perbaiki’ dimulai dari diri saya termasuk mental didalamnya,
emosi, kedewasaan, cara berpikir, cara bertindak... settle down with someone
sounds great emang. Tapi gimana kalau sebelum saya settle down sama siapapun yang
sedang Tuhan bentuk untuk jadi jodoh saya, saya harus settle down sama diri
saya dulu? A better you will attract a better next ?
Be realistic. Punya pacar atau
suami nggak lantas menjadikan seseorang selalu bahagia, kan ? Justru sebuah
hubungan mau nggak mau menggiring kita untuk jadi orang yang lebih pengalah,
lebih pengertian, lebih sabar, dan lebih-lebih yang lainnya yang mungkin saat
ini nggak bisa saya lakukan. Bahkan dalam film yang paling romantis sekalipun,
akan ada behind the scenes atau adegan yang harus di cut karena kurang chemistry
misalnya, apalagi dengan kehidupan nyata yang adegannya nggak bisa di edit
terlebih di cut ? Saya, dan siapapun pasti nggak mau berada dalam hubungan yang salah. It’s all about process.
Kedengarannya sepele memang, atau
bahkan lebay. Tapi saya sudah rasakan dan lewati semua fase membingungkan ini,
dan rasanya memang nggak enak. Dunia terang-terangan mendeklarasikan two is
better than one and something like that, and i couldn’t agree with you more. But,
if you right now in the same situation as mine, it doesn’t mean you are not
good enough for anyone, you are free as a bird! Fly!
By the way.... what should i call my
situation ? Spare my lovelife ? 😉
ps: tidak ada unsur kesengajaan perihal postingan 'jomblo' dihari valentine.
much love,
M
Comments
Post a Comment