Skip to main content

Free?


Hi, there :)
Um, okay disini saya tiba-tiba mau share tentang suatu cerpen yang duluuu banget saya baca di suatu majalah yang saya lupa namanya, saya lupa judul cerpennya, saya lupa penulisnya, tapi saya ingat ceritanya, sampai hari ini.

Ceritanya (kurang lebih) gini....

Ada seorang gadis hidup sederhana, memiliki orangtua dan kekasih yang menyayanginya.
Dia adalah seorang gadis yang sangat suka shopping. Yes, who doesn't ? 
hal yang paling digemarinya adalah pergi ke pusat perbelanjaan dan pulang dengan tangan penuh kantong hasil berbelanja: baju, celana, parfum, sepatu, tas, you name it.

Pada suatu waktu dia mengeluh, dengan kondisi keuangan yang dia miliki saat ini sangat tidak mungkin untuk bisa sering-sering berbelanja. 
Jadi, dia berpikir seandainya ada keajaiban yang bisa membuat segala sesuatu yang dia inginkan menjadi gratis. 

Tiba-tiba secara ajaib, ada seorang peri yang datang kepadanya. Si gadis yang masih bingung dengan hal tersebut, kemudian disadarkan dengan perkataan yang diucapkan oleh peri itu, katanya :

"Aku mendengar kau menginginkan segala sesuatu menjadi gratis"

Tanpa ragu, si gadis mengangguk.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu" kata si peri

"Benarkah?" tanya si gadis tidak percaya
"Ya, tentu saja. Aku bisa mengabulkan keinginanmu, tapi dengan satu syarat."

Gadis itu sempat berpikir tapi kemudian berkata "apa syaratnya?"
"Segala sesuatu yang kau inginkan, aku bisa membuatnya menjadi gratis. Tapi, sebaliknya segala sesuatu yang secara gratis selama ini kamu terima, akan terbalik menjadi berbayar."

Sebuah penawaran yang bagus! Aku akan bisa berbelanja secara gratis, sebanyak apapun!
Maka, dengan senyuman penuh kepuasan si gadis dan peri membuat perjanjian.

Keesokan harinya, gadis tersebut membuktikan perjanjian yang dibuat bersama sang peri. Dia pergi menuju pusat perbelanjaan dan mengambil satu baju dan berpura-pura menuju kasir untuk membayar. Petugas kasir kemudian membungkus baju tersebut dan langsung memberikannya kepada gadis itu.
"Apakah aku tidak perlu membayar?" Tanya si gadis

"Tentu saja. Kau bisa mengambil barang apapun yang kau suka tanpa perlu membayarnya," Jawab petugas kasir.

"Jadi peri itu tidak berbohong." Si gadis tersenyum puas dan merasa sangat bahagia.

Kemudian, gadis itu menuju ke toko yang lain, dan mendapat perlakuan yang sama. Sampai dia merasa cukup lelah dengan semua kantong belanjaan yang ada ditangannya dan kemudian memutuskan untuk pulang dengan hati yang sangat puas.
Sesampainya dirumah, si gadis menemukan kekasihnya duduk di teras depan rumahnya. 
Sambil mengangkut hasil belanjaan yang sangat banyak, si gadis tersenyum kepada kekasihnya dan berkata

"Apakah kau percaya? semua belanjaan yang ada ini semuanya gratis!"

Lalu kekasihnya menjawab "Begitukah?"

Gadis itu bingung kekasihnya yang biasanya sangat perhatian dan antusias terhadap ceritanya tiba-tiba berubah menjadi dingin dan tidak peduli. 

Dia bahkan tidak membantuku membawa kantong belanjaan. Gadis itu membantin.

Mencoba berpikir positif, si gadis itu menganggap kekasihnya memiliki banyak pikiran dan hanya belum ingin berbagi dengannya.
Obrolan mereka selanjutnya pun ditanggapi dengan dingin oleh kekasih gadis tersebut sampai kekasihnya pulang, gadis itu tidak mendapatkan pelukan yang biasa diberikan kekasihnya.

Masuk kedalam rumah, gadis itu berniat untuk bercerita dengan kedua orangtuanya berharap mendapat perhatian tentang keajaiban yang dia alami. Namun, orangtua gadis itu pun menanggapi ceritanya sama dinginnya dengan kekasihnya.

Hari-hari berlalu, kamar gadis itu kini sudah penuh sesak dengan semua barang belanjaannya. Hubungannya dengan kekasihnya dan orangtuanya pun masih dingin. 
Gadis itu kemudian merasa sangat kesepian ditengah tumpukan barang-barang tersebut.
Lalu ia mendengar bel rumahnya berbunyi dan segera membuka pintu berharap kekasihnya datang menemuinya.
Ketika membuka pintu, ia menemukan seorang petugas laki-laki berdiri sambil memegang buku yang cukup tebal, berdeham dan berkata

"Aku datang kesini untuk menagih bayaran yang harus kau bayarkan."

Dengan dahi berkerut gadis itu menjawab "Bayaran apa yang kau maksud?"

"Baik akan kubacakan." Jawab si petugas

"Kau harus membayar untuk sinar matahari yang menyinarimu, angin, hujan, tanah yang kau lalui, oksigen yang kau hirup, bintang dan bulan yang menyinari langit yang kau lihat di malam hari...."

Gadis itu kemudian tidak mendengar lagi apa yang dikatakan petugas itu karena terlalu bingung dan kemudian mendengar petugas itu berkata

"....Kau juga belum membayar untuk perhatian dari orangtua dan kekasihmu, mereka tidak akan memperhatikan dan menyayangimu jika kau tidak membayar mereka."

Petugas itu terus menyebutkan segala sesuatu yang harus dibayar dengan total nominal yang sangat besar. Seketika gadis itu menangis dan menyesali perjanjiannya dengan si peri dan berharap semuanya bisa kembali seperti sebelumnya.

Dear, writer that i couldn't remember your name and have written this story, 
I'm grateful in the day when i read this story (which i wrote back with some changes, because i can't remember the exact details, i'm sorry about that) and found myself feeling slapped with a short story that i just read. Your story reminded me the importance of living with gratitude. Grateful everyday with every FREE BLESSING that i received: sun, wind, moon and stars, the air, rain, love, attention from loved ones, warm hug, and the long list that i can't mention one by one.... 
May God bless your heart, your life and all those who become part of it.
Hopefully, we can live with humility and gratitude.

Have a goodnight :)

Warm hug,
M






Comments

Popular posts from this blog

Cetak Biru (1998)

Sewujud bangunan hadir di setiap kepala, tujuan yang mendenyutkan nyawa ke dalam cetak biru. Satu demi satu batu mimpi tersusun rapi, berlandaskan fondasi mantap, terekatkan semen yang kuat, Lalu, bangunan itu dilengkapi dan digenapi, sampai lahirlah utuh ke dunia materi. Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam, pilihlah bahan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan gubuk sederhananya, ada yang baru terpuaskan dengan julangan menara. Dalam jutaan bangunan yang ada, pastikan milikmu ada di sana. Sekalipun bukan yang terkemuka, tapi senyata bulan di pembuka candra. Karena banyak batu terbengkalai di sekitar bangunan tak selesai, karena banyak penumpang di teras rumah orang, dan tak ada bangunan yang nyata hanya oleh ancang-ancang, Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan, Ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, batu-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. Mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lag...

I did It

Finally, after 1000 cups of coffee, The nights i spent with my hands on the keyboard, Oke. Lebay 😜 Intinya, I did it. Meskipun revisi tetap setia menanti, tapi hari ini saya sudah melewati tahap terakhir ujian tesis saya! Yay! Jadi, setelah semua jerih payah dan serangkaian proses yang melelahkan itu berada di belakang saya, rasanya lega banget. Tapi, jangan senang-senang dulu. Justru ini adalah pertanda masa kejayaan saya berakhir karena kehidupan yang sesungguhnya akan segera datang.  Bayangin deh jadi anak kuliahan, kerjanya belajar, maen, belajar, maen, gituuu aja. Enak, kan? Masa itu akan segera berakhir, karena tanggungjawab yang lebih besar setelah lulus menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Kita harus bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, mengelolanya, hidup mandiri dan bertanggungjawab sepenuhnya.  Jadi, semoga ilmu yang kita dapatkan selama sekolah atau kuliah bisa menjadi bekal kita di masa depan, ya. Amin. Love, M

Naughty Nuri's Warung

Hi! Saya main ke Bali beberapa waktu yang lalu, dan nyobain pork ribs di Naughty Nuri's Warung sudah masuk ke dalam list saya sama teman saya. Jadi, lokasi Naughty Nuri's Warung ini terdapat di dua lokasi, yang pertama di  Jl. Raya Sanggingan No.88X, Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 dan yang kedua ada di Jl.  Mertanadi No. 62, Kerobokan, Seminyak, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361.  Berhubung hotel kita di daerah Kuta, jadi lebih efektif dan efisien untuk nyobain yang di daerah Seminyak dibandingkan di Ubud. Padahal, waktu di Ubud kebetulan kita ada janjian ketemuan sama temen-temen, berhenti dipinggir jalan yang kebetulan berseberangan dengan Naughty Nuri's Warung Ubud, tapi kita skip dulu untuk besoknya dan memutuskan untuk makan yang di Seminyak aja. Kalau di Ubud, tempat makannya konsepnya lebih tradisional, yang saya rasa justru mungkin lebih seru dan berasa homey aja. Nah, kalau di Seminyak, konsepnya sudah modern, da...