Skip to main content

Karang Kates

Since me and my dad have nothing to do and while we are stay in Malang, we took bold and sudden decision to go to a place called Bendungan Karang Kates, based on google it’s quite interesting. While we finished breakfast, we asked the shop owner how to route to the Bendungan Karang Kates.
After getting the information we need, we immediately set off using public transportation. Yeah, bahasa kalbunya itu biasa disebut ANGKOT. Karena saya dan papah saya sudah di doktrin oleh mamah saya yang menjunjung tinggi ilmu ‘Hemat pangkal kaya, pelit pangkal kaya raya’ jadilah kita pergi pakai angkot.

Kita nunggu angkot dari depan Malang Town Square (Matos) dengan kode angkot GL menuju ke Gadang, biaya sekali jalan Rp.4.000-Rp.5.000 per orang dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit, karena you know lah bukan angkot namanya kalau mulus jalannya, ya nungguin penumpang yang jelas-jelas nggak mau naik lah, berhenti beli rokok lah, pakai acara teriakin temennya sesama supir angkot pakai dadah-dadah pula sehingga total waktu tempuhnya jadi begitu. Udah gitu, supir angkotnya nawarin saya untuk langsung anterin ke Bendungan Karang Kates dengan biaya Rp.150.000. Sorry ya pak, muka saya emang polos dan imut-imut, tapi saya nggak bisa dikadalin segitunya, enak aja mau menjarah. Saya tolak dengan sopan :)

Sampai di Gadang kita harus nunggu ada angkutan menuju ke Karang Kates. Menurut informasi dari warga sekitar, ada dua jenis angkutan yang bisa bawa kita kesana; Pertama adalah bus yang disebut Bus Bagong warnanya putih, Kedua adalah angkot yang kalau saya deskripsikan itu berwarna coklat kemerahan....

Sulit banget nemuin Bus Bagong, nemunya cuman angkot. Jadi, kami naik angkot, lagi. Awalnya sih saya dan papah saya enjoy-enjoy aja selama di perjalanan, makanin buah nanas dan melon yang kami beli di depan Matos, liatin sawah-sawah, kebun jagung di sepanjang perjalanan, tapi lama kelamaan bosan juga, deh. Setelah kurang lebih satu jam yang tidak se-enjoy awalnya, kami akhirnya sampai di Karang Kates dan kita turun dari angkot dengan biaya Rp.20.000 per orang. Katanya, ada dua Bendungan disitu yaitu Bendungan Lahor dan Sutami. Kata si ibu yang punya warung disekitar situ, lebih rame dan bagus di Bendungan Lahor. Tanpa babibu, saya dan papah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke Bendungan Lahor sesuai rekomendasi si ibu tadi. Jarak tempuhnya sekitar 400 meter. Sampai disana....O.M.G

Bukan O.M.G yang kagum, O.M.G yang lebih mengarah kepada O.M.G! NOT AS WE EXPECTED, OR AT LEAST NOT AS THE DESCRIPTION THAT WE SAW IN GOOGLE. Kecewa pemirsah :’( :’(

Entah ibu tadi yang salah kasih rekomendasi atau kesalahan terletak pada pilihan kami untuk percaya dengan si ibu tadi, kami hanya bisa tersenyum masam. Saya langsung membatin, Loh ini kan cuma.... air. Yang jelas yang saya lihat hanyalah kandungan air dalam jumlah cukup besar yang nggak cukup menarik. Udah itu aja. Berusaha antusias, saya melihat sekeliling area Bendungan Lahor yang pada hari itu cukup sepi, nggak ada bak sampah, ada banyak kedai-kedai makanan di dekat lokasi bendungan, ada banyak pohon-pohon sehingga suasana jadi lumayan sejuk. Disebelah kanan bendungan, ada pos yang mematok harga per orang Rp.5.000 (weekday) dan Rp.7.000 (weekend) untuk bisa melihat bendungan lebih dekat.

Kami memutuskan untuk masuk dan membayar. Dan yang saya lihat hanyalah sekumpulan kecil, mungkin hanya sekitar 7 atau 8 orang yang asyik duduk di pinggir bendungan, memancing. Kemudian ada sepasang kekasih yang duduk sender-senderan, etdah. Alamakjang. Kagok banget, nggak tau mesti ngapain men! Mau foto-foto heboh, jadi malu. Akhirnya saya dan papah saya cuman duduk-duduk liatin mereka yang pada mancing sambil sesekali ngambil foto dengan agak kurang minat.

(tidak) puas duduk di pinggir bendungan, kita akhirnya pergi ke kedai di dekat bendungan yang menjual aneka ragam makanan indonesia, tentunya. Masa mau cari yang menu internasional ? Kan nggak ada yang jual nyonya.... saya dan papah saya pesan gado-gado dengan harga Rp.7.500 per porsi dan untuk rasanya saya kasih 3,5 dari 5 bintang. Apaan sih -__-

Nggak ada pilihan yang terdengar lebih hebat, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke Malang saja. Naik angkot, lagi-lagi. Bus Bagong entah pergi kemana, mungkin ke bulan. Kami juga sudah terlalu lelah untuk menunggu. Kembali sampai di Gadang, kami turun dan membayar angkot Rp. 12.000 per orang. Loh kok? Tadi kan Rp.20.000 per orang waktu berangkat. Disitu saya sadar, we’ve been fooled oleh supir angot pertama. Gini nih, rasanya kalau jadi orang asing. Nggak usah deh di negara lain, di negara sendiri aja kalau bukan orang daerahnya asli hampir pasti dibego-begoin sama oknum-oknum maruk.

Tapi yasudahlah. Saya ikhlas kok. Semoga dengan tarif yang mereka lebihin itu bisa mereka pakai untuk beli pulau pribadi suatu hari nanti. Amin.

Moral yang bisa dipetik : Pertama, Google tidak selalu baik. Kedua, jangan mudah percaya dengan rekomendasi orang lain, pertimbangkan. Ketiga, supir angkot mudah memperdaya siapapun.


Kesimpulan : hari itu kami pulang dengan perasaan yang tidak menentu. 















Comments

Popular posts from this blog

Cetak Biru (1998)

Sewujud bangunan hadir di setiap kepala, tujuan yang mendenyutkan nyawa ke dalam cetak biru. Satu demi satu batu mimpi tersusun rapi, berlandaskan fondasi mantap, terekatkan semen yang kuat, Lalu, bangunan itu dilengkapi dan digenapi, sampai lahirlah utuh ke dunia materi. Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam, pilihlah bahan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan gubuk sederhananya, ada yang baru terpuaskan dengan julangan menara. Dalam jutaan bangunan yang ada, pastikan milikmu ada di sana. Sekalipun bukan yang terkemuka, tapi senyata bulan di pembuka candra. Karena banyak batu terbengkalai di sekitar bangunan tak selesai, karena banyak penumpang di teras rumah orang, dan tak ada bangunan yang nyata hanya oleh ancang-ancang, Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan, Ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, batu-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. Mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lag...

I did It

Finally, after 1000 cups of coffee, The nights i spent with my hands on the keyboard, Oke. Lebay 😜 Intinya, I did it. Meskipun revisi tetap setia menanti, tapi hari ini saya sudah melewati tahap terakhir ujian tesis saya! Yay! Jadi, setelah semua jerih payah dan serangkaian proses yang melelahkan itu berada di belakang saya, rasanya lega banget. Tapi, jangan senang-senang dulu. Justru ini adalah pertanda masa kejayaan saya berakhir karena kehidupan yang sesungguhnya akan segera datang.  Bayangin deh jadi anak kuliahan, kerjanya belajar, maen, belajar, maen, gituuu aja. Enak, kan? Masa itu akan segera berakhir, karena tanggungjawab yang lebih besar setelah lulus menjadi hal yang tidak bisa ditunda. Kita harus bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, mengelolanya, hidup mandiri dan bertanggungjawab sepenuhnya.  Jadi, semoga ilmu yang kita dapatkan selama sekolah atau kuliah bisa menjadi bekal kita di masa depan, ya. Amin. Love, M

Naughty Nuri's Warung

Hi! Saya main ke Bali beberapa waktu yang lalu, dan nyobain pork ribs di Naughty Nuri's Warung sudah masuk ke dalam list saya sama teman saya. Jadi, lokasi Naughty Nuri's Warung ini terdapat di dua lokasi, yang pertama di  Jl. Raya Sanggingan No.88X, Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 dan yang kedua ada di Jl.  Mertanadi No. 62, Kerobokan, Seminyak, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361.  Berhubung hotel kita di daerah Kuta, jadi lebih efektif dan efisien untuk nyobain yang di daerah Seminyak dibandingkan di Ubud. Padahal, waktu di Ubud kebetulan kita ada janjian ketemuan sama temen-temen, berhenti dipinggir jalan yang kebetulan berseberangan dengan Naughty Nuri's Warung Ubud, tapi kita skip dulu untuk besoknya dan memutuskan untuk makan yang di Seminyak aja. Kalau di Ubud, tempat makannya konsepnya lebih tradisional, yang saya rasa justru mungkin lebih seru dan berasa homey aja. Nah, kalau di Seminyak, konsepnya sudah modern, da...