Dear Gramedia,
terimakasih sudah hadir dan memberi warna untuk kehidupan
saya yang saat ini sedang dalam mode hibernasi dari segala kekacauan duniawi.
Sudah bukunya buanyaaak, harga novelnya bikin rahang jatuh
semua saking murahnya :D
Saya sebagai discount hunter, berdosa melewatkan semua itu.
Dalam dua periode kesitu, saya sudah beli sembilan buku.
Hahahaha
Saya sebagai pencinta novel, kadang kebingungan sama orang
yang nggak suka sama novel
Waktu baca novel, Saya bakalan merasa ditarik kedalam
pusaran cerita dan ujung-ujungnya jatuh cinta atau (beberapa kali) benci sama
karakter yang ada.
Ngenes memang, ketika novelnya berakhir sementara kisah
hidup saya rasanya gitu-gitu aja. Iri. Racun sih, bikin saya punya fantasi berlebihan
soal ‘cowok novel’ bakal berdiri didepan hidung saya dengan cinta dan bunga
serta membawa semua kebahagiaan yang terasa terlalu nyata untuk disebut
mustahil.
Okay, saya bukan Cinderella atau setidak-tidaknya, Kate Middleton.
Okay, saya bukan Cinderella atau setidak-tidaknya, Kate Middleton.
Tenang, saya masih punya kewarasan yang lebih dari
cukup untuk memahami bahwa well, cowok novel hanya hidup dalam novel. Kenyataan
pahit. Telan aja.
Cuman saya agak tergelitik setelah baca dua novel dari
antara novel lain yang saya beli, ceritanya soal homoseksual dua-duanya, duh.
Saya termasuk orang yang sangat menghargai pilihan hidup
orang lain, terlebih sesuatu seperti penyimpangan orientasi seksual yang saya
sendiri yakin, kalau bisa mereka dengan perbedaan orientasi seksual tersebut
diberi pilihan, mereka juga ingin ‘hidup’ normal.
Nggak bisa menyembunyikan muka mode sarkatis waktu melihat,
mendengar atau terhubung dalam bentuk apapun dengan mereka yang punya orientasi
seperti itu. Tapi, setelah dipikirkan lagi, jahat sekali kalau sampai
menghakimi mereka mentah-mentah.
Pendekatan dan bimbingan saya rasa adalah cara awal yang
baik.
Kita nggak selalu bisa memandang dan menilai atau bahkan
menghakimi kehidupan orang lain berdasarkan kacamata kita sendiri, satu sudut.
Pasti ada cerita terutama fakta yang terlewat, yang nggak
sampai ke telinga kita.
Saya suka film/drama/novel bukan selalu karena haus akan kasih sayang dan manisnya happy
ending, tapi bikin saya memandang sesuatu dengan cara yang lebih luas. Lewat
film/drama/novel saya diperlihatkan dengan suatu cerita minimal 180 derajat,
bahkan sering 360 derajat.
Saya lihat dari semua sisi, saya menilai, saya belajar.
x,
gadis yang suka belajar.
Comments
Post a Comment